Aktivitas fisik berperan penting dalam kesehatan fisik dan mental namun lebih dari 30% populasi dewasa kurang beraktivitas fisik. Dari tahun ke tahun, prevalensi kurangnya aktivitas ini semakin meningkat. Dalam global action plan 2018, WHO menargetkan penurunan angka kurang aktivitas fisik hingga 10%. Penyesuaian budaya lokal merupakan salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan aktivitas fisik masyarakat. Indonesia memiliki banyak tari tradisional sebagai bagian dari budaya lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai strategi peningkatan aktivitas fisik. Dengan mengikuti modul ini, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan tari tradisional sebagai bagian dari strategi peningkatan aktivitas fisik yang sesuai dengan aspek kesehatan dengan menerapkan prinsip anatomi, fisiologi, dan biokimia.

Pelatihan ini adalah pelatihan tingkat dasar yang akan memperkenalkan konsep dasar Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk aplikasi bidang kesehatan. Peserta akan diperkenalkan dengan data spasial dan non-spasial, integrasi data, visualisasi dan pemetaan data kesehatan. Pelatihan ini akan memperkenalkan berbagai perangkat lunak pendukung untuk melakukan pemetaan data kesehatan.

Setelah mengikuti kursus ini, peserta diharapkan mampu:

  • mengetahuai dasar-dasar data spasial dan perannya dalam pengambilan keputusan kesehatan
  • melakukan analisis spasial data kesehatan
  • melakukan geocoding dan memvisualisasikan data spasial
  • menghasilan peta dan laporan tematik

Daftarkan nama Anda di tautan berikut ini https://lutfan.typeform.com/to/I6P34W

Sistem Informasi Kesehatan merupakan bidang ilmu yang mempelajari pengelolaan data dan informasi kesehatan berbasis pada siklus sistem informasi mulai dari pengumpulan, menyimpanan, validasi, analisis, visualisasi, pelaporan dan diseminasi informasi kesehatan. World Health Organization (WHO) menegaskan sistem informasi kesehatan sebagai alat bantu untuk mendukung pengambilan kebijakan dan keputusan, penelitian, dan pada akhirnya memantau outcome kesehatan. Melalui course ini peserta akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pelayanan kesehatan dan monitoring sistem kesehatan secara makro. Secara spesifik, sebuah aplikasi open source DHIS2 akan dipraktekkan selama pembelajaran.

Kekerasan seksual pada perempuan dan anak bukanlah kejadian yang langka di Indonesia, namun pelaporan masih sangat kecil, sehingga berbagai laporan yang masuk dalam data penelitian atau dipublikasikan hanyalah "puncak gunung es" dari masalah yang sesungguhnya. Masyarakat bahkan petugas kesehatan melihat masalah kekerasan seksual sebagai hal permisif yang tidak perlu diangkat karena hanya akan merugikan pihak-pihak yang terlibat. Akibat dari kekerasan seksual tentunya menciptakan masalah tersendiri bagi kehidupan penyintas, misalnya adalah gangguan mental, stigmatisasi ataupun gangguan fisik berupa penyakit menular seksual. Banyak motif dan mekanisme yang memfasilitasi erjadinya kekerasan seksual. Diantaranya adalah tingkat pengetahuan dari perempuan dan anak terhadap kekerasan seksual dan juga yang terpenting adalah pemahaman serta kompetensu petugas kesehatan tentang kekerasan seksual dan manajemennya.

Data dari hasil Survey Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2006 oleh BPS dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan mengenai tindak kekerasan terhadap perempuan menurut pelaku menunjukan bahwa sebanyak 51,5% dilakukan oleh suami, 11,7% dilakukan oleh orangtua/mertua, anak/cucu, dan familia, 19,6% dilakukan oleh tetangga, 2,5% dilakukan oleh atasan/majikan, 2,9% dilakukan oleh rekan kerja dan 0,2% dilakukan oleh guru.

Petugas kesehatan sebagai dokter memiliki peran yang penting dalam penanganan medis dan pembuatan bukti medis pada kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Karena alasan tersebut maka dibutuhkan modul pembelajaran untuk penanganan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang berbasis bukti.

Melalui program course ini digagas untuk mengembangkan modul interaktif yang fleksibel dijangkau oleh petugas kesehatan yang relatif memiliki keterbatasan waktu untuk meningkatkan kompetensinya dalam managemen kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Diharapkan dengan adanya modul yang bersifat on-line dan mudah diakses oleh petugas kesehatan maka pencegahan kejadian kasus dan manajemen kekerasan dapat dilakukan secara lebih luas lagi.