
Banyak wanita mengalami perubahan dalam kesehatan mental mereka selama periode perinatal. Depresi pascasalin merupakan sebuah kondisi munculnya depresi pada tahun pertama setelah melahirkan dan dapat berlangsung dalam periode yang lama hingga beberapa tahun pascasalin (Wang, et al., 2021). Kecemasan dan depresi pada periode perinatal sering terjadi, mempengaruhi perkiraan 1 dari 10 wanita di negara-negara berpenghasilan tinggi dan satu dari lima di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Prevalensi depresi pascasalin di Indonesia ditemukan sebanyak 11,76% (Wang, et al., 2021), namun diprediksi prevalensinya lebih tinggi karena under reported.
Dosen Pengampu :
1. Dr. dr. Shinta Prawitasari, M.Kes., Sp.O.G., Subsp. Obginsos
2. dr. Diannisa Ikarumi Enisar Sangun, Sp.O.G., Subsp. Obginsos
3. dr Pramudita Putri Dyatmika Mandegani, MPH
4. Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D.
5. Dwi Susilawati, S.Psi., M.A., Psikolog
TUJUAN PEMBELAJARAN
- Memahami efek jangka panjang agen kemoterapi dan radioterapi dan jenisnya terhadap risiko gonadotoksisitas
- Memahami secara komprehensif risiko infertilitas dan pilihan preservasi fertilitas pada pasien kanker serta tata prosedurnya.
- Memahami mengenai preservasi fertilitas pada kondisi khusus yaitu kasus non keganasan (autoimun, endometriosis, Turner syndrome) dan pada pria
- Memahami pentingnya edukasi preservasi fertilitas pada pasien kanker sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas fertilitas pasca terapi kanker.
- Mempraktikkan keterampilan konseling dan edukasi pasien mengenai pilihan terapi kemoterapi dan radioterapi terkait gonadotoksisitas serta pilihan preservasi fertilitas bagi pasien dalam situasi yang aman bagi petugas kesehatan.
DOSEN PENGAMPU
- Dr. dr. Sri Mulatsih, SpA(K)
- dr. Mardhiah Suci Hardianti Ph.D, Sp.PD-KHOM
- Prof. Dr. dr. Heru Pradjatmo, Sp.OG(K)-Onk, M.Kes.
- dr. Shofwal Widad, Sp.OG(K)-FER
- dr. Agung Dewanto, Sp.OG(K)-FER, Ph.D
- dr. Sarrah Ayuandari, Ph.D., Sp.OG
- dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE
- Dr. dr. Dicky M. Rizal, M.Kes, Sp.And(K)
PENDAHULUAN
Keguguran merupakan salah satu penyebab kematian ibu yang utama di trimester pertama kehamilan, sehingga asuhan pasca keguguran yang komprehensif, meliputi konseling, tatalaksana medis, Iayanan Keluarga Berencana (KB)/kontrasepsi, rujukan ke layanan lain, serta kemitraan dengan masyarakat, perlu dilakukan. Berdasarkan kajian determinan kematian ibu oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI tahun 2012 menyebutkan bahwa 4,1% kematian ibu di Indonesia terjadi karena keguguran (Kemenkes, 2012). Selain kematian, keguguran juga dapat menyebabkan masalah kesehatan, baik fisik maupun psikologis.
Tatalaksana operatif dengan metode kuretase tajam pada kasus keguguran yang banyak dilakukan sebelumnya, telah diketahui meningkatkan risiko komplikasi sindroma Asherman dan persalinan preterm, serta ditengarai meningkatkan risiko plasenta akreta pada kehamilan selanjutnya (Kemenkes RI, 2020). Oleh karena itu, WHO dan FIGO telah menyarankan penggunaan aspirasi vakum manual (AVM) untuk tatalaksana operatif, karena mempunyai risiko perdarahan dan nyeri yang lebih kecil, lama rawat yang lebih singkat, serta mengurangi risiko komplikasi (Philbin, 2020). Sehingga seyogyanya, tenaga kesehatan yang menangani pasien dengan keguguran dapat melakukan asuhan pasca keguguran yang komprehensif yang diberikan dengan pendekatan yang berorientasi pada perempuan sebagai pasien, yaitu dengan mempertimbangkan faktor fisik, kebutuhan, kenyamanan, keadaan emosional, situasi serta kemampuan perempuan tersebut untuk mengakses layanan yang dibutuhkan.
Program course ini digagas untuk mengembangkan modul interaktif yang fleksibel dan dapat dijangkau oleh petugas kesehatan yang relatif memiliki keterbatasan waktu untuk meningkatkan kompetensinya dalam melakukan asuhan pasca keguguran secara komprehensif. Diharapkan dengan adanya modul yang bersifat hybrid dan mudah diakses oleh petugas kesehatan dapat meningkatkan kompetensi dalam melakukan asuhan pasca keguguran secara komprehensif.
Latar belakang:
Menyampaikan berita buruk (delivering bad news) di bidang Obstetri dan Ginekologi (Obsgin) sangat berat dan merupakan pengalaman yang penuh emosi, baik untuk pasien, keluarga yang terlibat maupun untuk dokter yang menyampaikan berita buruk. Kualitas penyampaian berita buruk dapat memengaruhi kepuasan pasien, emosi, persepsi kualitas pelayanan, dan kepatuhan pasien. Oleh karena itu, menyampaikan berita buruk adalah kompetensi yang sangat penting bagi setiap residen. Tanpa pengajaran yang tepat, residen dapat mengembangkan cara yang tidak tepat untuk menyampaikan berita buruk ini dan mungkin tidak siap untuk mengatasi dampak emosionalnya. Selain itu, kegiatan program pendidikan dokter spesialis didominasi praktek pelayanan sehingga menuntut inovasi pembelajaran yang dapat mengoptimalkan pembelajaran mandiri secara daring (online) dan tatap muka langsung (luring).
Dosen Pengampu:
- Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si, PhD
- dr. Beta Ahlam Gizela, Sp.F.M.(K)., DFM
- dr. Agung Dewanto, Sp.OG(K)-FER, PhD
- dr. Wika Hartanti, MIH
- dr. Endah Rahmawati, MA, PhD
- dr. Azid Mahardinata
Sebagai kampus yang Zero Tolerance terhadap tindak kekerasan institusi pendidikan perlu menciptakan lingkungan yang inklusif dan aman dengan memperkuat kebijakan anti-kekerasan serta menyediakan layanan konseling yang mudah diakses oleh semua mahasiswa. Modul ini diperuntukkan bagi peseta didik agar lebih sadar terhadap pentingnya kampus yang bebas tindak kekerasan serta dapat berpartisipasi aktif dalam mewujudkannya